Senandung kepada Tuhan

Kepada Tuhan, aku sampaikan
Betapa tangan ini ingin
Betapa diri ini ingin
Mencapai rembulan
Mendekap mentari

Kepada Tuhan, aku sampaikan
Bercucur peluh
Bersimbah darah
Tapak-tapak mulya, yang merelakan hidupnya,
bagi sang Bunda…

Dan kepada Tuhan, aku katakan
Biar rembulan dan mentari
Menjadi balasan
Atas tangan mereka
Yang menebas sabana noda, yang melukai wajah bundanya
Atas getir yang mereka rasakan…
Indonesia

Kupersembahkan bagi pekikan merdeka,
Yang mereka lukis di lazuardi jaya
Pekikan merdeka yang bergaung di telinga bangsa
Berkobar di dalam hati
Hingga kami mampu menjemput pelangi

Namun…
Hilang kini
Rantas sudah
‘Cahya pelangi, yang mengiringi detik negeri
Setapak demi setapak yang membekas, yang jauh sudah
Sayup-sayup, terdengar lantunan Indonesia Raya
oleh pelangi yang melambai kepada bangsa,
seakan bosan akan negeri yang seolah tak mau merdeka

Hanya terduduk di dalam semu
Tak bergeming di dalam nista…

Hingga akhirnya,
pekik merdeka kembali bergema, membawa jutaan bahagia
Membangkitkan jiwa yang mati, atas perjuangan tak bertepi

Dan kepada Tuhan aku sembahkan…
Senandung cinta ke hadirat-Nya
Seraya kuturutkan ribuan doa
Bagi pahlawanku yang menorehkan lautan
Bagi negeriku…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bintang Sang Bunda

Berdesir jiwaku memandang agung-Mu
Di senja tergulung memerah, menawan, mewarna nirwana
Di sampingku seorang bocah kecil yang sibuk menyanyi
Seraya ia memandangi langit yang berarak bersama hendak kembali ke peraduan

Lelap sudah sang surya
Maghrib berkumandang datang
Petang bersama bintang, berombongan dengan rembulan, mulai menari tarian jumpa
Aku tersenyum memandang elok dan lincah gerakannya

Nyanyian sang bocah berganti
Lagu lain terucap dari sang bocah
Tiba-tiba tempo nyanyiannya melambat
Berhenti di tengah syair

Menoleh ia ke hadapku
Aku perhatikan parasnya yang lucu
Polos, suci…

Senyumnya terkembang sebentar
Lalu dengan polosnya ia bertanya
“ Kakakku, di mana Bunda sekarang berada ?”

Aku tersentak menangkap kalimat itu
Aku tak mampu berkata
Karena ‘kuyakin, dia tak kan mampu menangkap kata-kataku
Ia terlalu kecil menerima kenyataan

Setelah memilah kata yang cocok untuk bocah sekecil dia
Sambil kutahan air mata, kucoba menjawab
“ Sayang, sekarang Bunda sudah di atas sana, Bunda bersama Tuhan”

Tak kusangka, ia kembali berkata
“ Kak, apa Bunda ditemani bintang-bintang?
Apa kita bisa ke sana, kita naik roket, Kak !
Apa bisa Bunda turun ?”

Terhenyak aku, tak kuasa menahan
Kuhapus linang air mata di kelopakku
Nyaris jatuh…

“ Sayang, Bunda tidak bisa turun.
Kita juga tak bisa bersua dengan Bunda mengendara roket.
Bunda memang ditemani bintang-bintang,
hanya anak-anak yang baik dan tidak nakal, yang nanti bisa bertemu Bunda.
Jadi, kalau kamu ingin bertemu Bunda, kangen Bunda,
berdoa sama Tuhan, supaya kamu bisa menjadi anak yang baik
dan nanti bisa ketemu Bunda, yah…”

Kupeluk sang bocah, kuciumi keningnya
Kubelai sayang rambutnya
Aku sadar, ia masih butuh seorang sosok Bunda
Namun, apa daya bila nasib yang berkata
Meski usai sudah kulakukan usaha,
jika nasib berbicara, apa yang mau dikata

Kembali kami berdua memandang angkasa
Mata bocah itu mencari-cari bintang bundanya
Ia menunjuk-menunjuk satu bintang yang sangat terang cahyanya

“ Itu, Bunda, Kak! Aku yakin itu Bunda.
Bunda, hati-hati,ya!
Bunda tunggu aku di sana, ya!
Sampai jumpa, Bunda!
Aku pasti kelak bertemu Bunda!”

Lantang ia teriakkan
Lantas ia tersenyum dan melambaikan jari-jari kecilnya yang manis
tanpa mengalihkan pandangan dari bintang itu

Aku tercekat
Hanya bulir air mata yang berucap
Wahai, Tuhan, duhai, Kekasih,
dengarlah adikku ini

Maka,Tuhan, aku hanya mampu mengadu kepada-Mu
Dengan menyebut nama-Mu, Yang Maha Pengasih
Aku mohon, ampuni dosa-dosa ayah dan bunda kami,
Kelak pertemukan kami kembali, berkumpul di dalam surga-Mu
Memeluk-Mu, bertemu kekasih-Mu, Baginda Muhammad…

Duhai, Maha Penyayang,
Izinkan kami, kelak menemui-Mu dalam keadaan baik dan mulia
Menyebut kalimat tauhid, membuktikan cinta kami
Cinta kami yang sejati, yaitu cinta kami untuk-Mu, hingga ujung usia
Menyambut dekap-Mu dengan beribu kerinduan yang tersimpan dalam kalbu


Jember, 17 Desember 2007

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

The Future

Future…
When are you come ?
I always wait for you
It’s not a short time
I always wait for you by climb the ladder of the times…

Wait…wait…and wait
Sometimes, I feel bored to study
I’m too tired!

But…
I know you will come to me, If I’m patient to wait you
With the heart that fulfilled by the faithful
With love and the strength
I promise…
I’ll be a good child
That’s very patient to wait you
With study
And I will try still to climb the ladder of the world

I know, the sun will accompany me
The moon, the stars
They will be a good partners for me to still step together

Find you…
In the last ladder of the world
The way to be a leader, a good leader…

Future…
Don’t go to anywhere
Wait for me, until I meet you with all of my happiness and also my pride

BY: Betari Aisah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tiada Apa yang Dapat Kukata

Karya: Betari Aisah

Aku tercekat dalam khidmat

Tersedu kalbu, haru membiru…

Hanya meringkuk malu di hadapan Tuhanku

Tergugu akan apa perilakuku, sikapku

Jauh melayang pikiranku, jauh melampaui masa belia

Sampai berhenti di detik-detik indahku

Tiada apa yang dapat kukata

Begitu sejuk memandangnya

Namun, begitu cepat, hanya sekilas

Aku sudah melewati waktu-waktu itu

Jauh dari menit-menit bahagia dalam pangkuan

Tiada apa yang dapat kukata

Untuk melati suci yang pernah ia tanam di hatiku

Yang ia rawat setiap waktu

Namun melati itu kini kering, hilang suci

Di tanah gersang, hatiku…

Luluh luruh jiwa

Runtuh akan mengenang kasihnya

Kasihnya, yang ternyata hadiah indah dari Pengasih Yang Satu

Kasihnya, yang senantiasa kucerca dengan beribu dosa

Kata yang hanya menyulut api neraka…

Ingat aku, teringat isak tangisnya

Ketika aku berujar, aku bukan lagi anak kecil yang

dapat digendongnya ke mana-mana

Tiada apa yang dapat kukata

Dengan itukah kubalas cintanya

Dengan itukah aku balas ribuan doa mulia

Yang ia ucap dari bibirnya

Di setiap ibadahnya

Bersama bulir air mata yang tiada henti mengalir

Sajadahnya menjadi saksi keluh kesahnya

Tuhan…

Aku tahu Kau-lah yang meniupkan ruh suci itu

Kesucian hati yang pernah ia tanamkan di hatiku

Yang kini ‘kukhianati dengan lidah tajamku, dengan perilaku hina…

Aku tak pantas lakukan itu

Tuhan, akankah Kau ampuni aku

Akankah Kau terima ini

Doaku, untuk beribu maafku yang telah mengingkari cinta-Mu

Sungguh, aku tak tahu…

Bahwa ternyata sayangnya adalah sayang-Mu

Lembutnya adalah lembut-Mu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pesan Ilalang


Karya: Betari Aisah


Fajar kembali…

Jumpa pagi, sang mentari dan embun pagi

Ilalang tak lalai, tetap terbentang

Menebar sejuk kalbu yang sepi

Merasuk…merasuk…

Isi hati semangat hari

Mengusir kembang-kembang layu,

dalam jiwa sukma nan sedih

Ilalang setia bergoyang

Menyambut tegap langkah generasi,

Anak-anak yang menyambung detik

Mengisi kehampaan merdeka…

Merpati sambar melati

Tuai cinta bagi pelangi

Mewangi, hilang gundah sang jiwa suci

Jiwa suci, ceria, berpelangi para generasi cahaya…

Yang tetap teguh susuri raga sukma

Yang setia menemani kisah mentari,

kasih rembulan, dan sahabatnya, ilalang

Ilalang gemulai melambai

Sambut ajakan silir semilir, menari

Diteduh oleh rindang sang mega

Menunggu dengan cinta

Anak-anak yang akan datang menyapa

Membawa segudang cita-cita demi kejayaan negeri

Menunggu dengan seribu harap

Anak-anak itu tak akan berhenti melangkah

Semoga anak-anak itu tidak putus asa

Melewati celah-celah berduri belukar kesukaran

Ilalang terus bergoyang

Menunggu generasi kebanggaan pertiwi,

yang pasti datang mengunjungi

Bertamu dalam bilik-bilik cintanya, serambi-serambi kasihnya

Menceritakan berbagai kisah, kasih, keluh, dan kesah masa perjuangannya

Dengan jutaan impian emas bagi bangsa, dengan jutaan semangat untuk mengejarnya

Ilalang tetap bergoyang, tersenyum ramah, menunggu generasi cahaya

Dadanya dipenuhi sesak rindu

Menunggu generasi yang pulang dari mengkaji cara angkat martabat bangsa, Indonesia

Tawa canda ceria, riang gembira mulai terdengar sayup

Pertanda pembawa bintang telah hampir tiba

Pembawa kilau bintang, potensi bangsa yang sesungguhnya mempesona

Hanya saja terlekang debu terbelenggu

Dan tangan-tangan mungil itu akan kembali memangku jaya

Dan bibir-bibir lembut itu akan kembali ucapkan dengan sepenuh semesta

Merdeka...!

Sampailah langkah-langkah cahaya, di tengah-tengah ilalang

Ilalang yang sejak tadi menunggu mereka

Seperti yang dibayangkannya

Anak-anak itu mulai bercerita...

” Ilalang...

Aku bosan, aku lelah

Letih rasanya aku bersekolah

Aku kalah pandai dengan anak kota

Percuma aku setiap hari menimba ilmu

Nantinya, aku pasti kalah dengan mereka

Aku kalah moderen ilalang...”

Butir air mata meluncur dari mata mereka

Menyeka bulir cucur keringat mereka

Jatuh membasahi alas kaki lusuh yang mereka pakai

Ilalang pilu dengar itu

Ajak mereka tetap tergelak ceria

Seraya berpesan melalui lambainya...

” Tak usahlah engkau bersedih, wahai, kawan!

Di belakangmu masih banyak yang menunggu

Di depan masih banyak yang mengharapkanmu

Di balik itu mereka punya asa yang tinggi, jayanya sang negeri...

Sahabatku, semua itu ada di pundakmu, itu tanggung jawabmu

Aku yakin dirimu bercahaya di balik banyak tambalan di pakaianmu, di balik sepatu yang sudah banyak berlubang, dan di balik hitamnya kulitmu...

Kulit yang senantiasa berteman dengan sengatan matahari

Berjuang, menuntut ilmu untuk meraih cita-cita Pertiwi...”

Mungil bibirnya tersenyum mengiya

Seakan mengerti apa yang dikata oleh sahabatnya, ilalang

Mereka pun beranjak pulang, menjemput matahari yang hendak kembali ke peraduan

Menyapa eloknya cakrawala hati mereka

Seelok langit senja, melangkah menuju merdeka Indonesia

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Semangat Itu akan Abadi

Karya: Betari Aisah

Matahari itu sedikit redup
Sinar semerah biasa, tak kudapati
Entahlah, matahari tampak bersedih
Semangatnya tak membara lagi...

Matahari itu...
Lambaikan jemari
Matahari itu, ucapkan berpisah
Matahari itu...

Matahari itu, telah pergi
Matahari itu sebar gulita
Tiada lagi cahaya merahnya
Namun, matahari pergi dengan seumbar senyum terindah

Bumi pun tertunduk, bersedih, menangis
Bumi pun terdiam,tak tahu harus apa
Bumi pun terduduk, meratapi yang terjadi
Bumi berderai air mata
Bumi hampir putus asa

Kepergian matahari membuat kami terpuruk sesaat
Kami terdiam dalam beberapa detik yang mengalun
Mengingat kasih dan riangnya sang matahari
Mengingat semangat derap langkahnya,
yang masih terngiang di telinga

Seharian kami merenung
Seharian tak mampu memandang ke depan
Seharian kami lelah menangis
Seharian kami lelah hanya duduk bersedih

Kami tersentak!
Sesedih apa pun kita, tak dapat kembalikan matahari itu...

Langkah matahari yang sedemikian mantap
Perlu terdengar lagi
Ucap matahari yang membara
Perlu dikumandangkan kembali

Mungkin, tanpanya, langkahku ’kan sedikit meraba
Mungkin, aku akan sulit berjalan
Mungkin, ku tak’kan lagi merasakan belaiannya
Mungkin aku tak dapat lagi memandang indah senyumnya
Mungkin sekarang ia tiada...
Tetapi, semangatnya akan selalu membara

Mungkin sekarang ia tiada
Namun, semangatnya ’kan terus membara
Maka, itu menjadi tenaga, memupuk kembali asanya, melanjutkan ukiran tinta emasnya,menuju Indonesia Emas yang menjadi cita-citanya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sejuntai Cahaya Fitrah

Wahai, apakah ini…
Begitu gelap melangkah
Aku takut
Mengapa jalur menjadi terhapus?

Wahai, apakah ini…
Apa ini karena cinta duniaku yang berlebihan
Apakah ini, dosa-dosaku yang merambat hitam
Ataukah ini hatiku yang telah buta…

Tuhan, dengarkah Kau dalam sedu tangisku ini?
Bukankah Engkau Maha Mendengar
Tuhan, aku tak ingin hatiku pekat
Aku tak ingin hatiku pekat oleh debu kehinaan

Tuhan, ke mana ‘ku harus mencari air pembersihan itu
Duhai, Sandaran Hati
Hanya di pelukanmu terasa hangat selalu
Maka, biarkan dulu aku menangis tersedu
Jadikan airmata ini penghapus kotoran hati
Catatlah airmata ini, sebagai penjernih pekatnya debu kehinaanku
Tuhan, maka saksikan airmata ini sebagai bukti taubatku…

Ampuni aku…
Inilah hamba-Mu yang meringkuk sedih, rindu akan maafmu
Inilah hamba-Mu, yang menangis, bermanja dalam pelukan-Mu
Inilah hamba-Mu, yang berbahagia dalam lautan kasih-Mu
Inilah hamba-Mu, yang rindu akan damai-Mu
Inilah hamba-Mu, yang meminta petunjuk dari-Mu

Duhai, Cinta
Sungguh tangisku, sujudku malam ini, tak sebanding dengan kebahagiaan surga-Mu
Hanya ampunan-Mu pengantarku menuju surga-Mu
Tuhan,izinkan kelak aku mendengar salam dari-Mu, sebagai ucapan selamat dari Mahakasih

Esok bangunkan aku dengan cahaya keimanan dalam kalbu
Bersama dengan saudara-saudaraku yang lain, menyambut ampunanmu, menyongsong fitrahku dalam satu kesatuan kesucian yang sama
Dalam Idul Fitri, yang berbahagia

Jember, 1 Oktober 2007

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS